Image default
Editor's PicksEnviroment

NASA dan UCLA Ungkap Bantar Gebang Semburkan 6,3 Ton Gas Metana per Jam, Tempat Sampah Kedua Paling Berbahaya di Dunia

Bekasi, ESGIDN.com – Bekasi kini resmi masuk radar darurat iklim dunia. Di atas gunungan sampah Bantar Gebang, ada “napas” yang tak terlihat, tapi terus keluar setiap jam: gas metana dalam volume yang membuat para peneliti global mengernyit.

Temuan ini berawal dari mata yang mengawasi Bumi dari luar angkasa. Instrumen EMIT (Earth Surface Mineral Dust Source Investigation) milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memindai berbagai titik emisi di permukaan bumi, termasuk langit di atas Bekasi. Dari citra dan data spektral EMIT, terlihat sebuah “plume” metana raksasa yang konsisten keluar dari area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Data mentah NASA itu kemudian dibedah oleh tim peneliti University of California, Los Angeles (UCLA) melalui Emmett Institute dan Stop Methane Project. Dalam laporan berjudul “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills”, UCLA menganalisis hampir 3.000 emisi dari 707 lokasi limbah di berbagai negara dan menyusun daftar 25 TPA dengan kebocoran metana terbesar di dunia.

Hasilnya cukup mencengangkan: Bantar Gebang duduk di peringkat kedua global sebagai penghasil emisi metana terbesar dari sektor tempat pembuangan akhir. Laju emisinya diperkirakan sekitar 6,3 ton metana per jam, hanya kalah dari TPA Campo de Mayo di Provinsi Buenos Aires, Argentina, yang mencapai sekitar 7,6 ton per jam. Angka itu mengukuhkan Bantar Gebang sejajar dengan “super-emitter” dunia lainnya, bukan sekadar persoalan lokal di pinggiran Jakarta.

Metana sendiri bukan gas biasa. Menurut berbagai kajian ilmiah, termasuk yang dirujuk UCLA, metana memiliki efek pemanasan puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka waktu beberapa dekade, sehingga kebocoran dalam skala ton per jam dari satu lokasi saja berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Dengan kata lain, setiap jam yang berlalu di Bantar Gebang bukan hanya soal bau menyengat atau risiko penyakit bagi warga sekitar, tetapi juga tambahan beban pada sistem iklim bumi.

Yang membuat temuan ini semakin mengusik adalah kenyataan bahwa Bantar Gebang menampung sampah dari seluruh wilayah Jabodetabek. Bekasi kerap dijadikan kambing hitam, tetapi data satelit menunjukkan bahwa ini adalah cermin gaya hidup konsumtif jutaan orang di wilayah metropolitan, dari Jakarta hingga kota-kota penyangga sekitarnya. Di balik tiap kantong plastik yang dibuang tanpa pikir panjang, ada kontribusi kecil pada “plume” metana yang kini terekam jelas dari luar angkasa.

Laporan UCLA menegaskan bahwa banyak TPA di dunia hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam. Namun, 25 lokasi teratas yang mereka identifikasi — termasuk Bantar Gebang — melepaskan antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton metana per jam, atau ratusan kali lebih besar dari TPA pada umumnya. Emisi dari kelompok kecil TPA super-emitter ini, menurut UCLA, setara dengan pemanasan tahunan yang dihasilkan sekitar satu juta SUV jika dibiarkan tanpa intervensi.

Di level kebijakan, temuan ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah pendekatan pengelolaan sampah yang ada sekarang cukup? Beberapa lembaga, seperti CERAH, menilai bahwa solusi waste-to-energy (WtE) yang sering diusung belum menyentuh akar masalah, yakni produksi sampah yang masif dan minimnya pemilahan sejak dari rumah. Di sisi lain, data yang sangat spesifik dari NASA dan UCLA memberi pemerintah pusat dan daerah alat bukti ilmiah yang kuat untuk merancang intervensi terukur, mulai dari penangkapan metana di TPA hingga reformasi sistem pengelolaan sampah kota.

Namun, di luar ruang rapat dan dokumen kebijakan, cerita Bantar Gebang pada akhirnya kembali pada perilaku harian kita. Narasi dalam video yang beredar luas di media sosial mengingatkan: apa yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berpindah tempat, menumpuk, lalu menguap menjadi gas tak kasat mata yang kini bisa dilihat NASA dari orbit. Ajakan untuk berhenti hidup konsumtif, memilah dan mengurangi sampah, serta tidak membuang sembarangan, bukan lagi slogan hijau yang klise, tetapi respon minimal terhadap fakta bahwa satu TPA di pinggiran Bekasi kini menyumbang salah satu kebocoran metana terbesar di planet ini.

Bagi yang ingin menelusuri lebih jauh, NASA mempublikasikan informasi tentang misi EMIT dan temuan “super-emitter” metana melalui laman resminya di newsroom NASA dan dokumentasi misi EMIT. Sementara itu, laporan lengkap UCLA Emmett Institute yang menempatkan Bantar Gebang di peringkat kedua emisi metana TPA dunia dapat diakses di situs resmi UCLA di halaman rilis “UCLA Emmett Institute cites largest methane emissions from world’s landfills” di newsroom.ucla.edu
.

Related posts

Viral Film Pesta Babi ! Cek Isi dan Cara Menontonnya

Nea

Bayang-bayang Pajak Karbon Eropa: Industri RI Terancam Pungutan Ganda Mulai 2026

Nea

Maria R Nindita Radyati: Arsitek ESG Indonesia yang Mengubah Bisnis Jadi Berkelanjutan

Nea