Image default
Editor's PicksEvent

Indonesia Net-Zero Summit 2026: Gratis Tiket, Serius Soal Masa Depan

Jakarta, ESGIDN.com – Pernah dengar istilah “konferensi iklim” dan langsung kebayang ruangan dingin, slide penuh angka, dan bahasa teknis yang bikin pusing? Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 mencoba mematahkan bayangan itu. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Balai Kartini Jakarta akan jadi tempat orang-orang dari berbagai dunia—pemerintah, pebisnis, akademisi, aktivis muda, sampai masyarakat sipil—ngobrol serius tapi tetap manusiawi soal masa depan iklim dan ekonomi Indonesia.

INZS pertama kali digelar tahun 2021 dan pelan-pelan tumbuh jadi forum iklim independen terbesar di Indonesia. Intinya sederhana: bikin gerakan net-zero dan ketahanan iklim bukan hanya urusan satu dua kementerian atau perusahaan, tapi jadi “urusan bareng” seluruh lapisan masyarakat. Masuk tahun kelima, INZS 2026 ingin mengangkat isu iklim dari sesuatu yang kadang terasa jauh, jadi prioritas nasional yang nyambung ke pembangunan, keamanan, dan kesejahteraan sehari-hari.

Tahun ini, fokusnya jelas dan cukup membumi: bagaimana transisi menuju net-zero bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang nyata dan kemakmuran bersama, bukan sekadar target di atas kertas. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, sistem energi tradisional kita makin kelihatan rapuh terhadap guncangan geopolitik, gangguan pasokan, dan harga yang naik turun. Di sinilah diskusi “Energy Security for All” jadi menarik—bicara soal diversifikasi sumber energi, percepatan energi terbarukan, dan bagaimana semua itu bisa bikin ekonomi lebih tahan banting dan masyarakat tetap punya akses energi yang terjangkau.

Di sisi lain, geopolitik dan diplomasi juga ikut menentukan cepat lambatnya aksi iklim. Melalui cluster “Geopolitics and Diplomacy”, INZS membahas bagaimana ketegangan global, persaingan rantai pasok, dan pergeseran kekuatan dunia membentuk ulang prioritas negara. Dalam konteks ini, transisi iklim bukan lagi topik tambahan, tapi bagian inti dari kepentingan nasional dan kebijakan luar negeri. Indonesia dan Asia Tenggara punya peluang untuk menjadi jembatan, tuan rumah, dan pengarah dalam kerja sama iklim yang lebih kooperatif.

Yang menarik, INZS 2026 tidak memisahkan iklim dari ekonomi. “Climate policy is economic policy” bukan cuma slogan, tapi pola pikir yang diangkat dalam tema “Aligning Economy, Trade, and Finance”. Diskusinya menyentuh soal kebijakan perdagangan hijau, pergeseran rantai pasok global, sampai kompetisi atas sumber daya krusial yang menentukan posisi negara di panggung ekonomi dunia. Buat negara berkembang, pertanyaannya jadi: bagaimana bergerak cukup cepat untuk menangkap peluang, menarik modal, dan menghindari tertinggal dalam transisi ini.

Lalu ada kekuatan alam Indonesia yang juga jadi sorotan. Lewat “Enhancing Nature-based Solutions”, summit ini mengangkat peran hutan, lahan gambut, dan ekosistem pesisir sebagai solusi yang bisa menyumbang hingga sepertiga pengurangan emisi global sekaligus menjaga ketahanan pangan, air, mata pencaharian, dan resiliensi masyarakat. Di sini, gagasan besar tentang sistem yang lebih regeneratif muncul: ekosistem dilindungi, komunitas diberdayakan, dan aksi iklim memberi nilai sosial ekonomi jangka panjang.

Dan tentu, semua kembali ke manusia. Dalam cluster “Building People and Societal Resilience”, perubahan iklim dibahas sebagai risiko keamanan manusia: dari panas yang bikin kerja makin berat, banjir yang mengusik rasa aman di rumah, sampai polusi udara yang diam-diam menggerus kesehatan. Diskusinya adalah soal bagaimana kita membangun sistem yang siap menghadapi iklim dan memastikan komunitas punya kemampuan untuk mengantisipasi, bertahan, dan pulih dari dampak-dampak ini.

Di tengah suasana global yang sering membuat kita lelah dengan berita krisis, Indonesia Net-Zero Summit 2026 menawarkan sesuatu yang lebih optimistis: bahwa net-zero dan ketahanan iklim bisa jadi tulang punggung cerita pembangunan baru, bukan hanya beban tambahan. Datang ke Jakarta awal Agustus ini bukan cuma soal menghadiri acara, tapi ikut merasakan bagaimana Indonesia dan para mitranya mencoba merangkai solusi bersama. Tiketnya gratis, pembicaranya lintas sektor, dan topiknya menyentuh langsung hidup kita sehari-hari—pertanyaannya tinggal: mau ikut ngobrol di Balai Kartini atau hanya membaca beritanya dari jauh?

Bagian yang bikin acara ini terasa makin ramah: tiketnya gratis. INZS 2026 membuka pendaftaran publik dengan free #INZS2026 tickets selama persediaan masih ada, melalui dua jalur registrasi di Loket—satu untuk publik, satu untuk partners. Buat kamu yang berkecimpung di dunia keuangan, ESG, kebijakan, komunikasi, atau sekadar penasaran dengan isu iklim, ini kesempatan langka untuk “masuk ruangan” tanpa harus khawatir soal harga tiket konferensi.

Link tiket gratis : https://www.fpciclimate.org/inzs2026

Related posts

Studi McKinsey: Perusahaan Besar Urus 100 KPI ESG Tapi Dampaknya Minim, Ini Solusinya

Nisa Silmi

Daftar Pemenang Lengkap Annual Report Award (ARA) 2024

Nea

Dorong Transparansi Emisi, Sejumlah Perusahaan Raih Penghargaan di CERTA 2026

Nisa Silmi