Image default
Expert Says

SBTi: Standar Global Untuk Target Net Zero Berbasis Sains

Jakarta – Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis iklim, sebuah inisiatif bernama Science Based Targets initiative (SBTi) muncul sebagai kompas utama bagi sektor korporasi untuk menyelaraskan ambisi bisnis mereka dengan sains.

SBTi merupakan sebuah lembaga yang menetapkan standar dan memberikan target pengurangan emisi perusahaan agar sejalan dengan ilmu iklim validasi. Dibentuk melalui kolaborasi strategis antara CDP, United Nations Global Compact, World Resources Institute, dan WWF. SBTi berfungsi sebagai kerangka yang akan dijadikan acuan bagi perusahaan menetapkan target emisinya secara ilmiah untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius.

Mekanisme kerja SBTi yang mengacu pada standar emisi Gas Rumah Kaca (GRK) membagi emisi perusagaan menjadi tiga lingkup cakupan. Lingkup pertama mencakup emisi langsung yang dihasilkan dari aset yang dimiliki perusahaan, seperti cerobong pabrik atau kendaraan operasional. Lingkup kedua berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, seperti pemakaian listrik dari PLN untuk operasional kantor.

Sementara itu, lingkup ketiga merupakan tantangan terbesar karena mencakup emisi dari hulu ke hilir, mulai dari aktivitas pemasok bahan baku hingga penggunaan produk oleh konsumen akhir. Dengan membedah ketiga lingkup ini, SBTi menjadi kerangka untuk membentuk standar perusahaan yang lebih bertanggung jawab kepada lingkungan dan menciptakan bisnis berkelanjutan.

Hingga Januari 2026, gerakan ini telah mencapai tonggak sejarah besar dengan lebih dari 10.000 perusahaan di seluruh dunia yang target iklimnya telah tervalidasi secara resmi. Melansir dari situs resmi Science Based Targets, wilayah Asia kini menjadi pusat pertumbuhan baru dengan tingkat kenaikan mencapai 53% dalam setahun terakhir, bersaing ketat dengan dominasi perusahaan-perusahaan di Eropa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya aksi iklim yang kredibel tidak lagi hanya milik negara maju, tetapi telah merambah ke pasar berkembang seperti Indonesia, Pakistan, dan Thailand. Beberapa multinational company telah menjadi pelopor dalam menerapkan kerangka kerja ketat ini dengan hasil yang nyata. Tesco, perusahaan ritel besar asal Inggris berhasil menginvestasikan lebih dari £700 juta untuk efisiensi energi dan pendinginan, yang secara drastis mengurangi emisi hingga 41%.

Di sektor FMCG, PepsiCo telah mengintegrasikan praktik pertanian regeneratif di jutaan hektar lahan untuk menekan emisi di rantai pasok mereka, sembari tetap mencatatkan keuntungan finansial yang kuat. Contoh lain datang dari TDC NET di Denmark, yang menjadi perusahaan pertama di dunia dengan target nol bersih tervalidasi untuk tahun 2030, membuktikan bahwa dekarbonisasi total dapat dipercepat jauh sebelum tenggat waktu global tahun 2050.

Adopsi kerangka kerja SBTi membawa manfaat strategis, tidak hanya sekadar pelestarian lingkungan. Penerapan kerangka SBTi dapat membawa dampak positif secara keseluruhan terhadap korporasi, termasuk peningkatan kepercayaan investor dan brand reputation.

Di Indonesia, beberapa perusahaan dari berbagai sektor terlihat menunjukkan komitmennya, termasuk sektor energi seperti PT Pertamina. Lalu sektor agribisnis seperti Musim Mas Group dan TSE Group, hingga sektor material konstruksi seperti SIG dan WIKA Beton.

Perusahaan yang memiliki target berbasis sains dinilai lebih siap menghadapi perubahan regulasi lingkungan di masa depan dan cenderung memiliki akses yang lebih mudah terhadap pendanaan hijau dengan suku bunga yang lebih kompetitif. Dengan demikian, SBTi telah mengubah paradigma dekarbonisasi dari beban biaya menjadi investasi strategis yang memastikan kelangsungan bisnis dalam ekonomi masa depan yang rendah karbon.

Related posts

Studi McKinsey: Perusahaan Besar Urus 100 KPI ESG Tapi Dampaknya Minim, Ini Solusinya

Nisa Silmi

Asia GX Consortium Adakan Pertemuan Tingkat Tinggi 2025, Dorong Akselerasi Transformasi Hijau di Asia

Nea

Bill Gates Bicara Jujur: Optimisme Itu Bukan Naif, Tapi Strategi

Nea