KATHMANDU, ESGIDN.COM — Bencana banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu pagi (26/8/2026), memicu gelombang air bercampur material lumpur, es, dan batu yang meluluhlantakkan koridor Sungai Bhote Koshi hingga Trishuli. Hingga Kamis (27/8/2026), sedikitnya 162 orang dikonfirmasi tewas dan lebih dari 800 orang dilaporkan hilang, termasuk puluhan peziarah Hindu yang berada di pos perbatasan.
Bencana tersebut terjadi secara mendadak sekitar pukul 08.40 waktu setempat di hulu lembah Lhende Khola. Analisis stasiun seismik USGS mengungkapkan pemicu utama bah berasal dari keruntuhan massa gletser dan debris (glacial collapse) di pegunungan, bukan disebabkan oleh hujan deras di pemukiman warga. Sinyal getaran awal yang sempat dikira gempa tektonik magnitudo 4,4 terkonfirmasi sebagai dampak runtuhnya material es dan batuan masif yang membendung sungai sebelum akhirnya jebol. Arus liar itu menyapu pemukiman, fasilitas pembangkit listrik, jembatan, serta pusat bea cukai di Distrik Rasuwa, Nepal, hingga wilayah Gyirong di Tibet.
Isu keselamatan para peziarah mancanegara menyeruak ke publik setelah tokoh spiritual ternama asal India, Sadhguru, angkat bicara mengenai kondisi darurat di lokasi. Dalam keterangannya, Sadhguru mengungkapkan bahwa sedikitnya 80 peziarah Hindu—terdiri dari 34 laki-laki dan 46 perempuan—terjebak dan terisolasi di pos imigrasi perbatasan setelah akses telekomunikasi dan transportasi lumpuh total.
Ia membagikan cuplikan rekaman CCTV dari sisi perbatasan yang memperlihatkan detik-detik dinding lumpur tebal menerjang bangunan pos.
“Secara harfiah, seluruh kelompok berada di dalam gedung. Ini adalah peristiwa yang mengerikan dan luar biasa. Semua telepon mati, jaringan terputus, jalan terblokir, kami tidak dapat pergi ke sana,” ujar Sadhguru merinci sulitnya proses evakuasi akibat hancurnya jalur darat.
Hingga saat ini, operasi Pencarian dan Penyelamatan (SAR) gabungan yang melibatkan otoritas Nepal dan militer China terus berpacu dengan waktu. Kendala medan pegunungan yang curam, jalan yang terputus, serta cuaca ekstrem di kawasan Himalaya menjadi hambatan utama dalam menembus titik-titik isolasi korban. Pihak berwenang mengimbau warga di sepanjang bantaran Sungai Trishuli untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

