Image default
Editor's PicksExpert Says

Kalau Perusahaan Ingin Low Carbon, SDGs Mana yang Wajib Diprioritaskan di 2026?

Pengurangan emisi karbon bukan hanya soal perusahaan menutup cerobong asap atau mengganti kendaraan bensin. Jauh di bawah, ada peta besar bernama Sustainable Development Goals (SDGs) yang menempatkan penurunan emisi sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Di tengah tekanan 2026—dari target nasional, pasar karbon global, hingga ekspektasi publik—sejumlah tujuan SDGs terbukti paling relevan memandu perubahan, baik di Indonesia maupun di kancah global.

Secara eksplisit, SDG 13 – Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim) menjadi poros utama pengurangan emisi karbon, dengan fokus pada mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Di Indonesia, komitmen NDC (Nationally Determined Contribution) menargetkan penurunan emisi 29 persen pada 2030, sejalan dengan tujuan ini.

Di 2026, Indonesia mempercepat langkah: dari implementasi pajak karbon, peluncuran pasar karbon nasional, hingga integrasi target pengurangan emisi ke dalam rencana pembangunan dan sektor energi. Survei publik menunjukkan 80 persen rakyat Indonesia mengharapkan pemerintah membuat target penurunan emisi yang tegas, mencerminkan desakan kuat dari masyarakat. SDG 13 bukan hanya kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk membangun kota yang lebih adaptif, energi yang lebih bersih, dan masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana iklim.

Sebagian besar emisi karbon berasal dari energi fosil. Di sini, SDG 7 – Energi Bersih dan Terjangkau (Affordable and Clean Energy) menjadi kunci utama pengurangan. Di 2026, tren global mendorong peningkatan energi terbarukan: beralih ke tenaga surya, angin, dan hidro, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Di Indonesia, pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 19,5 persen pada 2024, dengan rencana ekspansi hingga 19 gigawatt pembangkit listrik EBT dan 17,4 juta kiloliter biodiesel. Di sektor energi, negara‑negara maju telah menurunkan emisi 9 persen dari 2010 hingga 2019, menunjukkan bahwa perubahan kebijakan energi secara global terbukti efektif. Investasi di energi bersih tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau dan meningkatkan keamanan energi.


Pengurangan emisi tidak hanya di pedesaan, tetapi juga di kota. SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) menekankan pada pengembangan kota inklusif, aman, dan ramah lingkungan. Transportasi massal rendah karbon, bangunan hijau, dan pengelolaan limbah berkelanjutan dapat mengurangi emisi per kapita, terutama di urban area seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Di 2026, tren kota pintar (smart city) dan infrastruktur ramah lingkungan mendorong Integrasi SDG 11 ke dalam perencanaan kota, mendukung pengurangan emisi dengan solusi yang praktis dan berkelanjutan. Misalnya, Jakarta terus mengembangkan MRT dan bus listrik untuk mengurangi polusi udara, sementara Bandung dan Medan juga mengembangkan zona hijau dan pengelolaan limbah berbasis komunitas.

SDG 12 – Pola Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Responsible Consumption and Production) menekankan pada efisiensi resources, pengelolaan limbah, dan pengembangan produk ramah lingkungan, semua yang mengurangi emisi sepanjang rantai nilai. Di 2026, tren konsumsi hijau mendorong masyarakat, perusahaan, dan pemerintah mengadopsi produk rendah karbon, misalnya makanan lokal, transportasi berbasis listrik, dan barang daur ulang.

SDG 15 – Kehidupan di Darat (Life on Land) menekankan pentingnya pengelolaan hutan, penghentian penggundulan, dan pemulihan lahan, yang menjadi penyerap karbon alami utama. Di Indonesia, pengelolaan hutan lestari dan penghentian deforestasi sangat krusial, mengingat negara ini menempati posisi keenam sebagai penyumbang emisi karbon terbesar dunia dengan 692 juta ton CO₂ pada 2023.

Dengan kata lain, pengurangan emisi karbon adalah kolaborasi multi‑tujuan SDGs. SDG 13 menjadi poros, tetapi dukungan dari SDG 7, 11, 12, dan 15 menciptakan keterhubungan yang kuat antara iklim dan pembangunan berkelanjutan, membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Related posts

Bukan Sekadar Kembang Api: Menyambut 2026 dengan Solidaritas dan Revolusi Digital

Diana Nisa

Optimalisasi PLTS Pertamina di Desa Padang Sakti: Dongkrak Pendapatan Warga Melalui Inovasi Energi Bersih

Nea

CSR KuCoin Mengalir ke Sumatra: Kolaborasi Global Dukung Akses Kesehatan Perempuan di Wilayah Bencana

Nea