Image default
Editor's PicksInovation & Green Technology

WHOME dan Mimpi Gen Z: Bukan Cuma Rumah Instan, Tapi Instrumen ESG?

Jakarta, ESGIDN.com – Buat banyak anak muda, terutama Gen Z, obrolan soal rumah hari ini sudah bergeser.
Bukan cuma “bisa punya rumah atau tidak”, tapi juga “kalau pun punya, rumahnya bikin bumi makin sakit atau justru sedikit lebih sehat?” Isu lingkungan, keadilan sosial, sampai transparansi perusahaan mulai jadi bagian dari pertimbangan, bukan sekadar embel‑embel brosur marketing.

Di tengah kegelisahan itu, WIKA Beton datang dengan WHOME: rumah modular berbasis beton pracetak yang bisa selesai dalam hitungan hari, tahan gempa, dan diklaim lebih efisien serta ramah lingkungan. Di video “W‑Home Sweet W‑Home”, WHOME dikemas sebagai rumah instan yang fun dan relatable; tapi kalau kita lihat lebih dalam, ada pertanyaan menarik: seberapa jauh WHOME bisa dibaca sebagai instrumen ESG, bukan hanya produk properti baru?

Environmental: rumah modular, jejak karbon, dan material
Isu pertama tentu soal jejak lingkungan. Beton selama ini identik dengan emisi tinggi, tapi WIKA Beton cukup agresif mendorong narasi “green precast”. Dalam penjelasan resminya, W‑HOME/WHOME diposisikan sebagai rumah modular pracetak yang: diproduksi terpusat di pabrik dengan kontrol mutu ketat, memakai material yang dikategorikan sebagai green material, dan dibuat dengan proses produksi yang lebih efisien energi.

Secara ESG, pendekatan precast punya beberapa poin plus: limbah konstruksi di lokasi lebih minim, pekerjaan di lapangan lebih singkat sehingga polusi dan gangguan ke lingkungan sekitar bisa ditekan, dan kualitas struktur lebih konsisten sehingga umur pakai bangunan berpotensi lebih panjang. WIKA Beton juga sudah mengantongi berbagai pengakuan lingkungan, mulai dari Environmental Product Declaration (EPD) untuk produk precast tertentu hingga adopsi bahan baku yang menurunkan emisi karbon melalui Life Cycle Assessment (LCA).

Bagi Gen Z, ini penting. Mereka tumbuh di era ketika “greenwashing” jadi kata sehari‑hari, jadi klaim ramah lingkungan tanpa data susah diterima begitu saja. Fakta bahwa WIKA Beton membawa sertifikasi, EPD, dan target peningkatan porsi green cement memberi sinyal bahwa WHOME bukan sekadar “rumah cepat jadi”, tapi bagian dari transisi ke konstruksi yang sedikit lebih rendah emisi.

Social: tahan gempa, pascabencana, dan akses hunian
Dimensi sosial WHOME juga cukup kental. Di beberapa artikel, WHOME diposisikan sebagai solusi hunian tetap untuk percepatan pemulihan pascabencana di Indonesia. Unit tipe 36 yang kompak, bisa dibangun cepat tanpa alat berat, dan sudah diuji tahan gempa (melalui uji siklik untuk kategori desain seismik di berbagai wilayah rawan) menjadikan WHOME relevan untuk konteks negara yang sering berhadapan dengan bencana alam.

Di sisi lain, WIKA Beton secara terbuka menyambungkan WHOME dengan Program Strategis Nasional pembangunan 3 juta rumah. Hunian modular yang bisa diproduksi massal dan dirakit cepat berpotensi membantu pemerintah mempercepat penyediaan rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, bukan hanya untuk segmen menengah ke atas.

Bagi Gen Z, ini menyentuh dua hal sekaligus. Pertama, rasa aman: rumah yang dirancang tahan gempa dan punya standar teknis jelas. Kedua, rasa “meaning”: memilih produk yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga punya dampak sosial lebih luas—baik melalui peran di program hunian rakyat maupun pemulihan pascabencana.

Governance: transparansi, paten, dan skor ESG
Aspek G dalam ESG sering terasa abstrak, tapi di kasus WIKA Beton justru menarik. Perusahaan ini mendaftarkan WHOME sebagai produk berpaten (Patent No. P00202506104), yang menunjukkan desain dan sistemnya bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan inovasi yang ingin dijaga dan dikembangkan.

Lebih jauh, WIKA Beton juga mengkomunikasikan skor ESG mereka secara publik. Perusahaan ini menyebut komitmennya terhadap ESG sebagai bagian strategi bisnis, dan pada 2026 meraih ESG Score 71/100 dalam S&P Global Corporate Sustainability Assessment, menempatkannya di top 13% global di industri construction materials. Bagi investor dan pengamat ESG, ini sinyal governance yang cukup kuat: ada effort serius mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam manajemen, bukan hanya di level kampanye produk.

Bagi Gen Z yang makin melek soal brand value dan transparansi, informasi seperti ini mulai masuk radar. Mereka tidak lagi hanya bertanya “rumahnya bagus atau tidak”, tapi juga “perusahaan di balik rumah ini mainnya bersih atau tidak, peduli lingkungan dan sosial atau hanya cari cuan cepat”.

Di titik mana WHOME relevan untuk Gen Z ESG‑minded?
Kalau ditarik ke pengalaman individu, WHOME menarik untuk Gen Z yang:

peduli isu krisis iklim tapi tetap realistis soal kebutuhan hunian,

ingin tahu jejak lingkungan dan sosial dari rumah yang mereka beli,

dan cenderung memilih produk dari perusahaan yang punya rekam jejak ESG yang bisa dicek, bukan hanya slogan.

Apakah WHOME sudah “sempurna” dari kacamata ESG? Tentu tidak. Beton tetap punya jejak karbon, dan masih banyak ruang diskusi tentang bagaimana modular housing bisa dioptimalkan sepanjang siklus hidupnya: dari sumber bahan baku, efisiensi energi rumah, hingga manajemen limbah saat renovasi atau pembongkaran. Namun dibanding banyak produk hunian yang sama sekali tidak bicara ESG, WHOME setidaknya membawa percakapan ke level yang lebih advance: hunian sebagai instrumen untuk mencapai target lingkungan, sosial, dan tata kelola yang lebih baik.

Pada akhirnya, bagi Gen Z yang sedang mempertimbangkan rumah pertama, WHOME bisa dibaca di dua level. Di permukaan, ia adalah rumah modular instan yang rapi dan Instagrammable. Di lapisan lebih dalam, ia adalah contoh bagaimana produk properti mulai dipaksa menjawab pertanyaan yang lebih besar: apa dampaknya ke bumi, ke masyarakat, dan ke cara perusahaan dijalankan.

Di era ketika like dan share bisa mengangkat atau menjatuhkan reputasi brand dalam hitungan jam, jawaban atas pertanyaan itu mungkin sama pentingnya dengan broket KPR dan denah rumah di brosur pemasaran.

Related posts

WIKA Gedung Perkuat ESG lewat Deleveraging, Saham WEGE Berpotensi Naik 2026

Nugroho

Indonesia: Harta Karun Keanekaragaman Hayati Dunia dan Peluang ESG Uniknya

Nea

Optimalisasi PLTS Pertamina di Desa Padang Sakti: Dongkrak Pendapatan Warga Melalui Inovasi Energi Bersih

Nea