Image default
CSREditor's PicksEnviromentInovation & Green TechnologySocialUncategorized

Inovasi ESG Beton untuk Perairan Gili Meno

Jakarta, ESGIDN.com – Di antara jernihnya air laut di Gili Meno, tersimpan sebuah ironi yang mendalam. Pulau yang dijuluki sebagai salah satu “Pulau Penyu” ini tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan dunia, tetapi juga sedang berada di garis depan perjuangan melawan krisis ekologi. Degradasi terumbu karang dan ancaman abrasi pantai yang kian agresif kini menjadi isu krusial yang membayangi masa depan kawasan konservasi tersebut.

Gili Meno merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Gili Matra. Selama bertahun-tahun, perairan Gili Meno harus menghadapi dampak ganda dari perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tak terkendali.

Urgensi Pelestarian Terumbu Karang

Pentingnya menjaga kesehatan terumbu karang bukan sekadar isu estetika bawah laut. Riset global menunjukkan bahwa perlindungan terhadap 30% wilayah terumbu karang dunia mampu meningkatkan stok ikan secara global hingga 28%. Bagi Indonesia, sebagai pemilik terumbu karang terluas di dunia, data ini adalah sebuah alarm sekaligus peluang besar untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi maritim.

Di tengah ancaman yang kian nyata ini, diperlukan solusi yang melampaui metode konservasi konvensional. Dibutuhkan sinergi antara teknologi industri dan kelestarian alam untuk menciptakan benteng pertahanan yang mampu memulihkan ekosistem yang telah rusak.

Inovasi dari Beton: Solusi Ganda untuk Karang dan Abrasi

Merespons tantangan tersebut, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) hadir membawa solusi inovatif melalui penempatan 5.500 Concrete Reef Unit (CRU). Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi strategis bersama Kementerian Pekerjaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I untuk memperkuat biodiversitas sekaligus memitigasi dampak abrasi yang kian parah di perairan Gili Meno.

Berbeda dengan struktur penahan gelombang biasa yang cenderung masif dan kaku, CRU didesain sebagai terumbu karang buatan dari beton pracetak berbentuk kubus berongga. Dengan dimensi 100 x 100 x 100 cm dan berat satu ton per unit, struktur ini memiliki fungsi ganda yang krusial. Desain rongganya dirancang khusus untuk memecah energi kinetik gelombang air sebelum mencapai bibir pantai, sehingga secara signifikan memperkuat pertahanan pesisir dan mencegah pasir pantai tersapu arus.

Selain sebagai perisai abrasi, rongga-rongga di dalamnya berfungsi sebagai habitat buatan yang memberikan ruang aman bagi karang untuk tumbuh dan biota laut untuk bersarang. Struktur beton yang stabil memastikan unit tidak mudah tergeser meskipun dihantam gelombang besar, menjadikannya alternatif strategis yang lebih ramah lingkungan dibandingkan tanggul beton konvensional.

Logistik dan Komitmen Berkelanjutan

Proses menghadirkan “benteng biru” ini melibatkan perjalanan logistik yang tidak mudah. Ribuan unit CRU diproduksi di Pabrik Produksi Beton (PPB) Pasuruan dan Unit Operasi 3, kemudian didistribusikan melalui Pelabuhan Gresik menuju lokasi proyek di Lombok. Ketelitian dalam penempatan setiap unit sangat krusial guna memastikan struktur tersebut benar-benar berada di titik koordinat yang membutuhkan proteksi ekstra.

Proyek ini mencerminkan implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang nyata. Sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN, WIKA Beton menunjukkan bahwa sektor industri material konstruksi dapat menjadi motor penggerak konservasi laut.

Bagi warga Gili Meno, kembalinya kesehatan terumbu karang berarti stabilitas ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan dan keberlangsungan sumber daya laut bagi generasi mendatang. Melalui langkah inovatif ini, teknologi dan alam kini berjalan berdampingan, menjaga setiap jengkal kejayaan maritim Nusantara agar tetap lestari.

Related posts

Gagal ke Bulan : Benarkah NASA Lebih Pilih Selamatkan Bumi Lewat Standar ESG?

Nugroho

Apa Itu Mens Rea? Memahami Kritik Politik Pandji Pragiwaksono tentang Governance Indonesia

Nea

Mewujudkan Hilirisasi Berkelanjutan: Menjaga Keseimbangan Antara Target Ekonomi dan Aspek Sosial

Nugroho

Leave a Comment