Image default
CSREditor's PicksEnviromentSocial

Satu Ton Sampah Per Minggu di Pulau Pari, WIKA Beton Bersama WIKA Group Bawa Solusi Ekonomi Sirkuler

Jakarta, ESGIDN.com – Daya tarik wisata Pulau Pari di Kepulauan Seribu mampu mendatangkan hingga 2.500 pengunjung setiap akhir pekannya. Di balik roda ekonomi pariwisata yang berputar, terdapat beban lingkungan yang nyata mengenai volume sampah di kawasan pesisir ini.

Berawal dari persoalan tersebut, WIKA Group menjadikan Pulau Pari sebagai titik fokus program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) sebagai lead collaborator. Inisiatif program Pari Island Circular Waste Initiative pada Kamis (6/8) ini, juga dihadiri oleh Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan.

Sudut pandang utama dari program ini adalah penerapan prinsip ekonomi sirkuler. Sistem ini dirancang agar sampah tidak sekadar menumpuk di tempat pembuangan, melainkan dipilah dan diolah kembali agar memiliki nilai ekonomi bagi warga pesisir. Secara praktis, perusahaan menjalankan tiga program berkesinambungan di lapangan.

Langkah pertama dimulai dari edukasi lingkungan di SD-SMP Negeri 1 Atap Pulau Pari. Di sekolah tersebut, para siswa diajarkan cara mengurai limbah organik menggunakan metode maggot (belatung pengurai).

Langkah kedua berfokus pada pemberdayaan warga melalui pengembangan Bank Sampah. Bekerja sama dengan Komunitas Lintas Sektoral Pulau Pari, sistem ini dibangun agar sampah anorganik warga dapat didaur ulang secara komersial.

Sementara itu, langkah ketiga difokuskan pada penghijauan, penataan, serta pemenuhan fasilitas kebersihan di area wisata Pantai Kresek.

Terkait pelaksanaan program ini, Chief Sustainability Officer WIKA Beton, Verly Widiantoro, menjelaskan bahwa keberhasilan inisiatif lingkungan sangat bergantung pada peran aktif masyarakat. Perusahaan melihat adanya kemauan yang kuat dari warga lokal untuk merawat pesisir mereka.

Oleh karena itu, WIKA Beton merancang program ini tidak sebatas pada pemberian alat atau fasilitas fisik, melainkan turut membangun sistem persampahan yang utuh. Perusahaan menargetkan limbah yang selama ini menjadi sumber masalah dapat berbalik menjadi sumber pendapatan tambahan untuk menyejahterakan warga.

WIKA Beton sendiri tercatat sudah melakukan pendampingan masyarakat di Pulau Pari sejak tahun 2022. Pada inisiatif terbaru ini, skala program diperluas dengan dukungan penuh dari 10 entitas bisnis di bawah naungan WIKA Group. Melalui implementasi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) ini, diharapkan kelestarian ekosistem dan pariwisata di Kepulauan Seribu dapat berjalan seimbang tanpa saling merugikan.

Related posts

Mengungkap Aksi Iklim: Climate TRACE Buka Era Transparansi Emisi Global

Nea

Perbandingan Upah Minimum Indonesia dan Malaysia: Siapa yang Lebih Sejahtera?

Nisa Silmi

Bagaimana Perubahan Iklim Menggeser Poros Bumi

Nugroho

Leave a Comment