Jember, ESGIDN.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama para mitra teknologi terus mengoperasikan Terowongan Mrawan sepanjang 690 meter di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, yang sejak 16 Januari 1903 berfungsi sebagai jalur vital logistik lintas Kalisat–Banyuwangi. Infrastruktur warisan Staatsspoorwegen yang membelah Gunung Gumitir ini kini diintegrasikan dengan sistem pemantauan modern guna memenuhi aspek keberlanjutan lingkungan, dampak sosial, dan tata kelola keselamatan (Environmental, Social, and Governance/ESG).
Pembangunan terowongan berkode BH 152A ini dimulai pada tahun 1901 oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan metode penggalian dua arah dari sisi Kalisat dan Banyuwangi yang dipertemukan di tengah gunung. Pada Desember 1902, penggalian menembus 450 meter dilengkapi saluran drainase sepanjang 300 meter, sebelum akhirnya resmi dilewati kereta pertama pada awal 1903. Pascabencana gempa bumi dan tanah longsor yang merusak kawasan tersebut pada tahun 1909, dilakukan penguatan struktur berupa perpanjangan mulut terowongan dan pelandaian lereng curam yang selesai pada tahun 1910 untuk memitigasi risiko keruntuhan material.
Dari aspek lingkungan (Environmental), keberadaan terowongan ini meminimalkan pembukaan lahan terbuka hijau di lereng Gumitir dibandingkan opsi pembangunan jalur memutar yang membutuhkan deforestasi lebih luas. Pengelolaan air di dalam tanah dioptimalkan melalui injeksi resin elastis kedap air pada tahun 2014 untuk menahan rembesan yang berpotensi mengikis pengikat batu alam setebal 90 sentimeter pada lengkung terowongan. Struktur lengkung ini secara teknis berfungsi menyalurkan tekanan tanah secara merata ke dinding samping, meminimalkan pemusatan tegangan (stress concentration), serta menjaga stabilitas geologis sekitar.
Pada dimensi sosial dan ekonomi (Social), Terowongan Mrawan memotong hambatan geografis guna mengalirkan komoditas pangan seperti kopi, gula, dan beras menuju Pelabuhan Banyuwangi sejak abad ke-20. Jalur ini mempertahankan efisiensi waktu tempuh massal bagi mobilitas masyarakat antarkabupaten, yang secara langsung mereduksi emisi karbon per kapita jika dibandingkan dengan moda transportasi darat berbasis jalan raya.
Menjawab tantangan tata kelola keselamatan (Governance) jangka panjang, pemeliharaan rekayasa struktur kini beralih ke sistem berbasis data digital untuk mendeteksi anomali secara dini. Teknologi WB SHMS (Structural Health Monitoring System) dari WIKA Beton diterapkan pada lintas Terowongan Mrawan–Kalibaru untuk memantau respons dinamika struktur terhadap beban kereta secara real-time guna mencegah kegagalan struktural. Melalui kombinasi ketahanan material batu alam dan sistem monitoring mutakhir ini, aset infrastruktur historis tersebut tetap beroperasi aman di bawah koridor standar keselamatan transportasi modern.

