Image default
Editor's PicksExpert Says

ESG Adalah ? Pertanyaan Yang Sering Muncul Di Google

Jakarta, ESGIDN.com – ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Artinya, ini adalah kerangka kerja untuk mengukur bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya dengan mempertimbangkan tiga pilar utama.
​Jangan bayangkan ESG sebagai sesuatu yang rumit atau hanya untuk perusahaan besar multinasional. Faktanya, ini adalah panduan praktis yang bisa diterapkan oleh siapa saja—dari startup teknologi hingga pabrik tekstil keluarga di Bandung.

Untuk memahaminya, mari kita breakdown satu per satu.

E – Environmental (Lingkungan)
Pilar pertama menyangkut dampak perusahaan terhadap lingkungan. Pertanyaannya sederhana: apakah bisnis Anda menghasilkan emisi karbon tinggi? Bagaimana pengelolaan limbahnya? Efisien tidak dalam hal energi?

    Contoh konkret: sebuah pabrik tekstil di Semarang yang mengubah sistem pencahayaan dari lampu biasa ke LED hemat energi, atau perusahaan yang mendaur ulang limbah air produksinya. Itu adalah praktik Environmental yang baik.

    S – Social (Sosial)
    Pilar kedua berkaitan dengan bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, komunitas lokal, dan pelanggan. Apakah gaji adil? Aman tidak tempat kerjanya? Bagaimana kontribusi perusahaan kepada masyarakat sekitar?​

      Contoh: sebuah bank yang memberikan program pendidikan gratis bagi anak-anak komunitas kurang mampu, atau perusahaan logistik yang memastikan bonus hari Raya dan jaminan kesehatan bagi semua sopirnya. Itu adalah praktik Social yang baik.

      G – Governance (Tata Kelola)
      Pilar ketiga adalah tentang transparansi dan etika dalam menjalankan perusahaan. Apakah CEO dan dewan direksi transparan dalam pengambilan keputusan? Apakah ada sistem check and balance yang kuat? Bagaimana perlindungan pemegang saham?

        Contoh: perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan berkala dengan jelas, memiliki audit internal yang independen, dan memiliki kebijakan anti-korupsi yang ketat. Itu adalah praktik Governance yang baik.

        Tiga Manfaat Nyata untuk Bisnis Indonesia
        Mungkin Anda bertanya: “Kenapa repot-repot?” Jawabannya, karena ESG memberikan manfaat finansial dan kompetitif yang nyata.

        Manfaat 1: Akses Pendanaan Lebih Mudah
        Investor modern—terutama yang berasal dari luar negeri—semakin selektif. Mereka tidak hanya melihat laporan laba-rugi, tapi juga melihat komitmen ESG perusahaan.
        ​Bayangkan Anda pemilik startup dengan ide cemerlang, tapi kesulitan mendapatkan pendanaan dari fund asing. Jika Anda bisa menunjukkan bahwa bisnis Anda ramah lingkungan, adil pada karyawan, dan transparan dalam tata kelola, peluang investasi jauh lebih besar.Data menunjukkan, investasi ESG global diproyeksikan melonjak 84 persen menjadi US$33,9 triliun pada 2026. Indonesia adalah bagian dari tren ini. Perusahaan dengan skor ESG tinggi lebih menarik bagi investor institusi.

        Manfaat 2: Reputasi dan Loyalitas Pelanggan Meningkat
        Di era media sosial, reputasi bisa rusak dalam hitungan jam. Tapi sebaliknya, perusahaan yang dikenal peduli lingkungan dan adil pada karyawan mendapat loyalitas pelanggan yang jauh lebih kuat.​

        Contoh nyata: FKS Group, perusahaan holding Asia Tenggara, telah mengadopsi panel surya (PLTS) di delapan lokasi pabriknya. Tindakan ini membuat citra mereka di mata konsumen meningkat—perusahaan dianggap serius tentang keberlanjutan.

        Pelanggan Indonesia semakin conscious. Mereka rela membayar lebih untuk produk dari perusahaan yang bertanggung jawab sosial dan lingkungan. Ini bukan nilai emosional semata—ini adalah faktor bisnis yang bisa dihitung dari revenue dan market share.

        Manfaat 3: Efisiensi Operasional dan Penghematan Biaya
        Praktik ramah lingkungan seperti efisiensi energi, pengurangan limbah, dan manajemen sumber daya yang baik—semuanya mengurangi biaya operasional jangka panjang.

        Pabrik yang menggunakan energi terbarukan tidak hanya menurunkan emisi, tapi juga tagihan listrik bulanannya. Perusahaan yang berinvestasi dalam kesejahteraan karyawan memiliki turnover lebih rendah, training cost lebih kecil, dan produktivitas lebih tinggi.

        Penelitian dari Oxford University menunjukkan, implementasi ESG dapat meningkatkan performa bisnis hingga 88 persen.

        Manfaat Lain yang Sering Tertinggal
        Selain tiga manfaat di atas, ada keuntungan lain yang tidak kalah penting:

        Compliance dengan regulasi. Indonesia mulai menerapkan standar pengungkapan keberlanjutan yang wajib diterapkan mulai 2027. Perusahaan yang sudah bergerak sekarang akan lebih siap.

        Akses ke supply chain global. Banyak brand internasional mensyaratkan supplier mereka memiliki sertifikasi ESG. Tanpa itu, perusahaan Anda bisa terputus dari peluang bisnis besar.

        Mitigasi risiko jangka panjang. Perusahaan dengan ESG bagus memiliki exposure lebih rendah terhadap risiko lingkungan, sosial, dan hukum di masa depan.

        Mulai Dari Mana?
        Jika Anda adalah pelaku usaha dan mulai tertarik, inilah langkah praktis:

        Pertama, lakukan assessment sederhana: apa yang sudah baik dari bisnis Anda dalam hal lingkungan, sosial, dan tata kelola? Apa yang masih perlu diperbaiki?

        Kedua, prioritaskan. Jangan coba ubah semuanya sekaligus. Pilih satu atau dua area yang paling kritis atau paling mudah diubah terlebih dahulu.

        Ketiga, set target terukur. Tidak cukup bilang “kami mau ramah lingkungan.” Lebih baik: “kami akan kurangi emisi karbon 20 persen dalam 3 tahun” atau “kami akan tingkatkan gaji karyawan level bawah 15 persen tahun ini.”

        Keempat, komunikasikan. Lapor kepada stakeholder—karyawan, pelanggan, investor—tentang progres Anda. Transparansi adalah bagian dari ESG juga.

        Penutup: ESG Bukan Beban, Tapi Investasi
        Jika Anda masih berpikir ESG adalah kewajiban regulasi yang membosankan atau beban biaya tambahan, saatnya mengubah perspektif. ESG adalah investasi cerdas untuk pertumbuhan jangka panjang bisnis Anda.

        Perusahaan Indonesia yang bergerak cepat dalam ESG akan mendapatkan akses pendanaan lebih baik, reputasi lebih kuat, biaya operasional lebih efisien, dan daya saing lebih tinggi di pasar global.

        Sementara itu, perusahaan yang tertinggal akan menghadapi kesulitan pendanaan, kehilangan karyawan berbakat, dan risiko regulasi yang meningkat.

        Pertanyaannya sederhana: bisnis mana yang ingin Anda jalankan?

        Related posts

        50% Warga RI Cemas Biaya Hidup: Sinyal Bahaya Bagi Korporasi yang Abaikan Inklusi Sosial

        Nugroho

        Panduan Siaga Bencana 72 Jam : Lengkap Siap Hadapi Gempa Tsunami Banjir di Indonesia

        Nea

        Imigrasi Indonesia Buka Izin Tinggal Seumur Hidup untuk Diaspora Tanpa Kewarganegaraan Ganda

        Diana Nisa