Jakarta, ESGIDN.com – Krisis plastik ternyata tidak berhenti di sungai, TPA, atau laut. Penelitian terbaru menunjukkan, partikel mikroplastik kini telah menembus batas paling intim: beredar dalam darah manusia. Fakta ini menggeser mikroplastik dari isu lingkungan semata menjadi ancaman nyata bagi kesehatan publik, khususnya di negara maritim seperti Indonesia.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Environment International menganalisis sampel darah 22 orang dewasa sehat. Hasilnya mencengangkan: mikroplastik terdeteksi pada 17 orang, atau hampir 80 persen responden. Partikel yang ditemukan antara lain PET (bahan botol minuman), polistirena (kemasan makanan), dan polietilen (kantong plastik) – jenis-jenis plastik yang setiap hari bersentuhan dengan hidup kita.
“Ini indikasi pertama bahwa kita benar-benar memiliki partikel polimer dalam darah,” kata Dick Vethaak, ahli ekotoksikologi Vrije Universiteit Amsterdam yang terlibat dalam penelitian tersebut. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa mikroplastik bukan hanya mengotori pantai dan laut, tetapi berpotensi bersarang di organ tubuh dan memicu kerusakan sel dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Indonesia masih bertahan di peringkat atas negara penyumbang sampah plastik ke laut dunia. Laporan Bank Dunia yang dirangkum Kementerian Kelautan dan Perikanan menempatkan Indonesia di posisi kedua penyumbang sampah plastik laut terbesar setelah Tiongkok. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) memperkirakan timbulan sampah nasional 2025 menembus sekitar 50 juta ton per tahun, dan sekitar 40 persen di antaranya tidak terkelola – sebagian besar akhirnya bermuara ke sungai dan laut.
Dampaknya, berbagai studi mengungkap jejak mikroplastik di hampir seluruh rantai air Indonesia. Lembaga kajian Ecoton melaporkan kontaminasi mikroplastik di sungai-sungai besar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur. Di perairan Jawa Timur, misalnya, mereka menemukan 57–136 partikel mikroplastik per 100 liter air, sementara pada ikan, udang, dan kerang yang diteliti terdapat mulai dari beberapa hingga ratusan partikel per ekor.
Penelitian WWF di Sungai Ciliwung juga menemukan rata-rata 4,55 partikel mikroplastik per liter air pada 14 titik pengambilan sampel dari Bogor, Depok, hingga DKI Jakarta. Artinya, sungai yang menjadi nadi ibu kota tidak hanya membawa air dan sedimen, tetapi juga partikel plastik mikro yang berpotensi masuk ke air baku, irigasi, dan rantai pangan warga perkotaan.
Mikroplastik didefinisikan sebagai fragmen plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, yang bisa berasal dari pecahan sampah plastik besar maupun produk yang memang dibuat berukuran mikro, seperti microbeads dalam kosmetik dan produk perawatan tubuh. Karena berukuran sangat kecil dan ringan, partikel ini mudah terbawa arus, angin, dan gelombang, menyebar dari sungai ke laut, lalu naik ke rantai makanan.
Ada tiga jalur utama mikroplastik memasuki tubuh manusia:
Makanan laut – Ikan, udang, dan kerang dari perairan tercemar terbukti mengandung mikroplastik di saluran pencernaan dan jaringannya. Bagi masyarakat pesisir dan penikmat seafood di kota besar, ini menjadi jalur paparan yang tak kasatmata.
Produk pangan harian – Studi global menemukan mikroplastik dalam garam laut, air minum kemasan, bahkan pada beberapa produk daging dan sayur, meski tingkat kontaminasinya bervariasi.
Air minum & kemasan – Botol minum, galon, serta wadah plastik berpotensi melepaskan mikroplastik, terlebih ketika terpapar panas atau dipakai berulang.
Udara yang dihirup – Serat sintetis dari pakaian, karpet, dan debu interior bangunan menyumbang partikel mikroplastik yang bisa masuk melalui sistem pernapasan.
Dengan pola hidup urban yang sangat tergantung pada plastik sekali pakai, warga kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan berpotensi terpapar ratusan partikel mikroplastik setiap hari tanpa pernah menyadarinya.
Dampak jangka panjang mikroplastik pada tubuh manusia memang masih diteliti, tetapi sejumlah sinyal bahaya sudah cukup kuat untuk menyalakan alarm.
- Mengganggu sistem pencernaan dan metabolisme
Saat tertelan, mikroplastik dapat mengiritasi dinding usus dan memicu peradangan, yang pada gilirannya mengganggu penyerapan nutrisi. Endapan partikel plastik di saluran pencernaan juga dikhawatirkan bisa mengubah komposisi bakteri baik di usus, padahal mikrobiota usus memegang peran penting dalam imunitas dan metabolisme. Beberapa kajian literatur menyebut potensi gangguan metabolisme dan peningkatan risiko obesitas terkait paparan bahan kimia pengganggu hormon yang menempel pada mikroplastik. - Merusak sistem pernapasan
Paparan mikroplastik melalui udara dapat mengiritasi saluran pernapasan, memperburuk kondisi pasien asma atau bronkitis, dan memicu peradangan kronis pada jaringan paru. Studi toksikologi menunjukkan partikel-partikel ini dapat menimbulkan stres oksidatif dan kerusakan sel, yang dalam jangka panjang dikaitkan dengan penurunan fungsi paru dan peningkatan risiko penyakit pernapasan. - Mengacaukan hormon dan sistem imun
Banyak jenis plastik mengandung bahan tambahan seperti Bisphenol A (BPA) dan ftalat yang dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC), atau pengganggu sistem endokrin. Paparan rutin dapat mengacaukan keseimbangan hormon, memengaruhi sistem reproduksi, kesuburan, bahkan meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolisme. Di sisi lain, mikroplastik juga dapat memicu respons imun berlebihan dan peradangan kronis, sehingga diduga berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit autoimun, meski bukti klinis masih terus dikumpulkan. - Potensi risiko kanker dan gangguan saraf
Beberapa jenis plastik dan bahan kimia yang dibawanya dikategorikan atau dicurigai sebagai karsinogenik. Akumulasi paparan mikroplastik dan bahan kimia terkait dalam jangka panjang dikhawatirkan meningkatkan risiko kanker, terutama jika memicu kerusakan sel berulang. Selain itu, paparan bahan kimia neurotoksik yang menempel pada mikroplastik dikaitkan dengan gangguan kognitif, penurunan fungsi memori, serta potensi gangguan perkembangan otak pada anak.
Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah penelitian menunjukkan bayi dan anak-anak menyimpan mikroplastik dalam kadar lebih tinggi dibanding orang dewasa. Studi yang sama yang mendeteksi mikroplastik dalam darah melaporkan bahwa kadar mikroplastik di feses bayi bisa mencapai 10 kali lipat dibanding feses orang dewasa. Bayi yang minum susu dari botol plastik sekali pakai juga diperkirakan menelan jutaan partikel mikroplastik setiap hari.
Organ tubuh yang masih berkembang dan sistem detoksifikasi yang belum matang membuat kelompok usia ini jauh lebih rentan terhadap dampak toksik dan gangguan hormonal. Dengan kata lain, apa yang hari ini tampak sebagai “krisis plastik” berpotensi mewariskan krisis kesehatan lintas generasi jika tidak segera dikendalikan.
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia menggantungkan ekonomi dan ketahanan pangan pada kesehatan lautnya. Namun, dari Teluk Jakarta hingga Selat Madura dan pesisir NTT, laut yang seharusnya menjadi dapur protein bangsa kini kian sarat plastik, baik yang kasatmata maupun yang berukuran mikro.
Ketika sampah plastik terpapar matahari, ombak, dan gesekan, material ini pecah menjadi fragmen kecil yang disebut mikroplastik. Partikel kecil ini dimakan plankton, masuk ke tubuh ikan, lalu berpindah ke manusia saat ikan dan hasil laut lainnya disajikan di meja makan. Kajian Universitas Airlangga menegaskan bahwa mikroplastik yang mengontaminasi biota laut berpotensi menimbulkan gangguan saluran pencernaan, fungsi hati, ginjal, reproduksi, hingga meningkatkan risiko kanker bagi masyarakat yang mengonsumsi hasil laut tersebut.
Bagi nelayan kecil dan masyarakat pesisir, kualitas laut yang menurun bukan hanya soal ekologi, tapi juga soal hilangnya napas ekonomi dan ketahanan pangan keluarga.
Secara global, isu mikroplastik mulai masuk dalam pembahasan perjanjian internasional soal plastik di bawah payung PBB; beberapa negara telah melarang microbeads di kosmetik dan produk perawatan tubuh karena kontribusinya terhadap polusi mikroplastik. Di Indonesia, sejumlah kebijakan pengurangan plastik sekali pakai sudah berjalan, seperti pelarangan kantong plastik di beberapa daerah dan inisiatif kantong berbayar di ritel modern.
Namun, kelompok masyarakat sipil menilai langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan mikroplastik. Ecoton, misalnya, mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan baku mutu mikroplastik dalam air sungai, limbah industri, dan seafood sebagai dasar penegakan hukum terhadap pencemar. Tanpa standar yang jelas, sulit bagi pemerintah daerah maupun penegak hukum untuk menindak pelaku industri yang membiarkan mikroplastik mengalir ke sungai dan laut.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?
Menyelesaikan persoalan mikroplastik memang membutuhkan perubahan sistem produksi, desain produk, hingga tata kelola sampah nasional. Tetapi, pilihan sehari-hari konsumen tetap punya daya tekan yang nyata.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat antara lain:
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke tas, botol, serta wadah makan yang dapat digunakan berulang.
Menghindari pemanasan makanan dalam kemasan plastik, terutama di microwave; gunakan wadah kaca atau keramik.
Membaca label dan memilih produk perawatan yang bebas microbeads plastik, menggantinya dengan eksfoliator alami.
Mendukung kebijakan dan gerakan pengurangan plastik, mulai dari bank sampah, gerakan bersih sungai/pantai, hingga advokasi kebijakan di tingkat lokal.
Langkah-langkah ini mungkin terasa kecil di level individu, tetapi secara kolektif mengirim pesan kuat ke industri dan pembuat kebijakan tentang arah preferensi konsumen Indonesia.
Mikroplastik adalah wajah paling halus dari krisis plastik yang selama ini kita lihat dalam bentuk kantong, sedotan, dan kemasan yang menumpuk di TPA dan muara sungai. Temuan partikel plastik dalam garam, air minum, feses, dan kini darah manusia menjadikannya bukan lagi sekadar isu estetika lingkungan, tetapi persoalan kesehatan publik dan ketahanan bangsa.
Pertanyaannya, seberapa lama Indonesia mau menunggu sebelum bergerak lebih agresif? Di satu sisi, industri plastik masih menggeliat; di sisi lain, generasi muda tumbuh dalam dunia yang secara harfiah “berdarah plastik”. Jika tidak diintervensi dengan regulasi yang tegas, inovasi bahan alternatif, dan perubahan perilaku kolektif, mikroplastik berisiko menjadi “darah baru” peradaban – mengalir tenang, tak terlihat, tapi perlahan menggerogoti fondasi kesehatan masyarakat.

