Jakarta – Gelombang skeptisisme terhadap praktik Environmental, Social, & Governance (ESG) dan maraknya kasus greenwashing memicu pengawasan ketat regulator internasional. Regulator Eropa melalui European Securities and Markets Authority (ESMA) menjadikan pengawasan greenwashing sebagai prioritas utama periode 2025–2026, sementara kasus-kasus greenwashing terus bermunculan dengan sanksi yang semakin berat. Tekanan politik terhadap EU Green Deal juga meningkat akibat tingginya biaya energi dan kompleksitas persyaratan pelaporan.
Banyak perusahaan terpaksa menunda implementasi atau bahkan mundur dari komitmen keberlanjutan mereka. Investor global semakin selektif dan menuntut transparansi serta bukti konkret atas praktik keberlanjutan perusahaan. Di era ini, penilaian ESG bukan lagi pelengkap melainkan standar baru dalam menilai kinerja jangka panjang perusahaan dari sisi finansial, dampak lingkungan, dan kontribusi sosial.
Standar Emas Penilaian dengan Reputasi Ketat
S&P Global Inc. adalah perusahaan analisis keuangan dan informasi terkemuka yang berkantor pusat di Manhattan, New York City. Sebagai induk dari S&P Global Ratings, lembaga pemeringkat kredit terbesar di dunia, perusahaan ini dikenal dengan metodologi penilaian yang sangat ketat. S&P Global juga menyediakan indeks S&P 500, rating kredit, dan penilaian ESG melalui S&P Global Market Intelligence.
Reputasi ketatnya terbukti dari serangkaian tindakan penurunan rating (downgrade) yang tidak pandang bulu. Pada kuartal keempat 2024, S&P Global Ratings mencatat lonjakan tajam downgrade dengan rasio tertinggi sejak kuartal pertama 2022, terutama di sektor kimia, kemasan, dan layanan lingkungan. Bahkan pada November 2025, lembaga ini menurunkan rating stablecoin Tether (USDT) ke level “weak” akibat peningkatan eksposur aset berisiko tinggi dan kesenjangan transparansi.
Penilaian ESG S&P Global melalui Corporate Sustainability Assessment (CSA) menggunakan pendekatan double materiality yang mempertimbangkan isu keberlanjutan material jika memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat, lingkungan, dan value driver perusahaan. Dengan mengolah rata-rata 1.000 titik data per perusahaan melalui 62 kuesioner spesifik industri yang masing-masing berisi 100–130 pertanyaan, CSA menjadi patokan global untuk mengukur kemampuan perusahaan mengelola risiko ESG dibandingkan kompetitor sejenis.
Industri Konstruksi Indonesia Tembus 13% Teratas Dunia
Di tengah kondisi global yang penuh tekanan ini, industri material konstruksi Indonesia mencatatkan prestasi luar biasa. PT Wijaya Karya Beton Tbk meraih skor Environmental, Social, and Governance (ESG) sebesar 71 dari 100 dalam penilaian S&P Global CSA yang dirilis 6 Februari 2026. Lonjakan tajam dari skor 46 pada tahun sebelumnya ini menempatkan emiten berkode WTON pada kelompok Top Quintile, yakni 13% teratas perusahaan material konstruksi di dunia.
Pencapaian skor 71 menempatkan perusahaan ini hampir dua kali lipat di atas rata-rata global industri material konstruksi yang hanya berada di angka 38. Dimensi Sosial menjadi kekuatan utama dengan skor 80, tertinggi di antara tiga pilar penilaian, diikuti Dimensi Lingkungan dengan skor 70 serta Dimensi Tata Kelola dan Ekonomi di posisi 63.
Lompatan 25 poin dalam setahun ini mencerminkan transformasi strategis yang dimulai sejak 2024, ketika perusahaan mengadopsi visi “A Trusted Global Sustainable Company Providing Solutions in the Concrete Industry” dan melakukan pembaruan identitas korporat. “Skor ESG 71 yang berada di atas rata-rata industri global menegaskan bahwa implementasi prinsip keberlanjutan di WIKA Beton telah menjadi sumber penciptaan nilai dan penguatan daya saing perusahaan,” ujar Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara.
Transformasi Hijau yang Nyata
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN, perusahaan ini berkomitmen terus menciptakan nilai tambah berkelanjutan melalui penguatan tata kelola korporat, akselerasi implementasi strategi iklim, peningkatan efisiensi energi, serta pengembangan dan perluasan portofolio solusi beton rendah karbon. Langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emission dan menjadi bukti bahwa praktik bisnis bertanggung jawab dapat berjalan beriringan dengan kontribusi pada pembangunan infrastruktur nasional yang berkelanjutan.
Capaian ini menunjukkan bahwa sektor material konstruksi Indonesia mampu bersaing dan unggul di level keberlanjutan internasional. Di tengah tekanan global untuk mengurangi jejak karbon, transformasi hijau di industri berat bukan sekadar wacana melainkan realitas yang dapat dicapai dengan komitmen dan strategi yang tepat.

