SINGAPURA, ESGIDN.com – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings (Moody’s) hari ini resmi mengubah proyeksi (outlook) peringkat Pemerintah Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”. Di saat yang sama, Moody’s tetap mempertahankan peringkat penerbit jangka panjang mata uang lokal dan asing Indonesia pada level Baa2.+2
Perubahan prospek ini didorong oleh berkurangnya prediktabilitas dalam pengambilan kebijakan yang berisiko merusak efektivitas kebijakan dan mengindikasikan melemahnya tata kelola. Jika tren ini terus berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan dapat tergerus.
Alasan Di Balik Proyeksi Negatif
Moody’s menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi dasar perubahan proyeksi ini:
- Ketidakpastian Kebijakan: Selama setahun terakhir, terdapat penurunan koherensi dalam proses pengambilan kebijakan serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Hal ini memicu risiko terhadap kredibilitas kebijakan di mata investor, yang tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar.
- Risiko Fiskal dari Program Sosial: Pemerintah saat ini sangat menekankan perluasan program sosial, termasuk inisiatif Makan Bergizi Gratis dan Perumahan Rakyat. Sejauh ini, program-program tersebut didanai melalui pemotongan dan reprioritasi anggaran kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Ekspansi lebih lanjut dikhawatirkan akan membebani kemampuan pemerintah dalam mengelola anggaran yang relatif kecil dibandingkan ukuran ekonomi negara.
- Ketidakpastian Terkait Danantara: Pembentukan lembaga pengelola investasi baru, Danantara, menimbulkan ketidakpastian mengenai pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasinya. Dengan wewenang atas aset BUMN yang melebihi US$900 miliar (sekitar 60% dari PDB nominal 2025), kurangnya koordinasi dan kohesi kebijakan seputar mandat Danantara berisiko menciptakan kewajiban kontinjensi bagi negara.
- Wacana Batas Defisit Fiskal: Munculnya saran dari pembuat kebijakan mengenai potensi perubahan kerangka fiskal, termasuk kemungkinan peningkatan ambang batas defisit fiskal 3%, turut memicu ketidakpastian, meskipun pihak eksekutif kemudian menegaskan kembali komitmen terhadap batas tersebut.
Dasar Mempertahankan Peringkat Baa2
Meski proyeksi berubah menjadi negatif, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 karena melihat beberapa kekuatan fundamental Indonesia:
- Ketahanan Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 5% dalam jangka menengah.
- Kekuatan Struktural: Kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan demografi yang menguntungkan tetap menjadi pilar utama pertumbuhan.
- Kebijakan Fiskal dan Moneter yang Pruden: Hingga saat ini, kebijakan moneter dan fiskal yang bijaksana telah berhasil menjaga stabilitas makroekonomi. Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga diprediksi tetap berada di bawah median negara-negara dengan peringkat sepadan (Baa).
Pertimbangan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)
Skor dampak kredit ESG Indonesia berada pada level CIS-3, yang menunjukkan bahwa pertimbangan ESG mulai memberikan dampak negatif pada peringkat kredit saat ini.
- Lingkungan (Skor E-4): Indonesia menghadapi risiko tinggi akibat perubahan iklim fisik, terutama banjir pesisir dan kenaikan permukaan air laut yang mengancam produksi pertanian serta ketahanan pangan.
- Sosial (Skor S-3): Meskipun pertumbuhan populasi mendukung ekonomi, konsentrasi kekayaan dan ketimpangan pendapatan di Indonesia masih tergolong lemah, yang meningkatkan risiko politik.
- Tata Kelola (Skor G-2): Secara umum masih sejalan dengan negara lain yang setingkat, namun perkembangan terkini terkait prediktabilitas kebijakan mulai menekan penilaian ini.
Faktor Penentu di Masa Depan
Moody’s menyatakan bahwa peningkatan peringkat sulit terjadi selama prospek masih negatif. Namun, proyeksi dapat kembali menjadi “stabil” jika pemerintah mampu menunjukkan konsistensi kebijakan dan komitmen nyata terhadap reformasi yang mendukung stabilitas makroekonomi.
Sebaliknya, penurunan peringkat dapat terjadi jika:
- Terjadi pergeseran ke arah kebijakan fiskal yang jauh lebih ekspansif tanpa dibarengi reformasi pendapatan negara.
- Terjadi pelemahan signifikan pada posisi eksternal (seperti depresiasi mata uang yang berkepanjangan).
- Memburuknya kesehatan finansial BUMN akibat tata kelola Danantara yang tidak memadai.
Data Ekonomi Utama (2024):
- Pertumbuhan PDB Riil: 5%
- PDB Per Kapita (PPP): US$ 16.582
- Tingkat Inflasi (IHK): 1,6%
- Saldo Fiskal/PDB: -2,3%
- Utang Luar Negeri/PDB: 30,4%

