Jakarta, ESGIDN.com – Penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) di kalangan korporasi global tengah menghadapi titik jenuh. Laporan terbaru dari McKinsey Global Institute (MGI) yang dirilis September 2025, berjudul “Beyond ESG: From Checklists to Capabilities”, mengungkapkan fenomena “ESG fatigue” atau kelelahan terhadap kewajiban pelaporan ESG yang kian membebani sektor usaha.
Berdasarkan data yang dihimpun MGI, rata-rata perusahaan besar saat ini harus memantau sekitar 100 indikator kinerja utama (KPI) terkait ESG. Lonjakan beban administrasi ini dinilai telah menggeser fokus perusahaan dari penciptaan dampak nyata menjadi sekadar pemenuhan daftar periksa (checklist) kepatuhan.
“Setelah satu dekade ekspansi, ESG sebagai kerangka kerja untuk mengukur dampak sosial perusahaan sedang ditinjau ulang. Proliferasi metrik yang cepat membuat perusahaan kesulitan mengetahui di mana tujuan bisnis dan sosial bisa selaras,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Strategi “Horses for Courses”
Sebagai solusi atas inefisiensi tersebut, laporan ini merekomendasikan pergeseran pendekatan dari kepatuhan administratif menuju pemanfaatan kapabilitas inti perusahaan. MGI memperkenalkan strategi “Horses for Courses”, yang menyarankan perusahaan untuk berhenti mencoba menangani seluruh isu sosial sekaligus.
Riset MGI menemukan bahwa mayoritas perusahaan rata-rata hanya memiliki kemampuan untuk memberikan dampak signifikan pada satu hingga tiga isu sosial saja, dari total 18 isu utama global yang dianalisis. Efektivitas dampak sosial dinilai akan jauh lebih tinggi jika perusahaan memilih isu yang relevan dengan keahlian unik bisnis mereka.
Sebagai ilustrasi, perusahaan teknologi dinilai lebih efektif berkontribusi pada penyelesaian kesenjangan pendidikan digital dibandingkan menangani isu sanitasi air, yang lebih relevan bagi perusahaan infrastruktur atau utilitas.
Tantangan Pembiayaan dan Perlunya Kolaborasi
Laporan tersebut juga menyoroti besarnya tantangan pembiayaan untuk menyelesaikan krisis sosial global. Diperkirakan, dibutuhkan dana sekitar 6 triliun dollar AS per tahun untuk menuntaskan 18 masalah sosial utama dunia hingga mencapai standar negara maju. Angka ini setara dengan tiga kali lipat total keuntungan seluruh perusahaan yang tergabung dalam Fortune Global 500.
Fakta ini menegaskan bahwa sektor swasta tidak memiliki kapasitas finansial untuk menyelesaikan masalah global sendirian. Oleh karena itu, kolaborasi antara inovasi korporasi dan kebijakan pemerintah menjadi syarat mutlak.
MGI mengangkat studi kasus Reliance Jio di India sebagai contoh keberhasilan kolaborasi tersebut. Perluasan akses internet murah bagi ratusan juta warga India dapat terwujud berkat kombinasi inovasi harga dari sektor swasta dan reformasi regulasi telekomunikasi yang suportif dari pemerintah setempat.
Rekomendasi bagi Sektor Usaha
Melalui laporan ini, McKinsey merekomendasikan para pemimpin bisnis untuk melakukan audit terhadap kapabilitas internal mereka. Perusahaan didorong untuk meninggalkan pendekatan checklist yang kaku dan beralih ke inisiatif yang lebih terfokus, di mana skala ekonomi dan inovasi perusahaan dapat menjadi solusi atas masalah sosial yang spesifik.
Masa depan keberlanjutan bisnis diprediksi tidak lagi bergantung pada seberapa banyak metrik pelaporan yang dipenuhi, melainkan seberapa dalam dampak yang dihasilkan melalui spesialisasi keahlian perusahaan.
Sumber: McKinsey Global Institute, “Beyond ESG: From Checklists to Capabilities”, September 2025.

