Jakarta, ESGIDN.com – Linimasa media sosial belakangan ini ramai membahas panduan pemerintah Belanda yang menyarankan warganya menyiapkan emergency kit untuk bertahan hidup selama 72 jam. Berbagai isu dikaitkan, mulai dari potensi perang hingga krisis darurat lainnya. Tak heran jika banyak orang ikut cemas dan bertanya-tanya, “Bagaimana jika hal serupa terjadi di sini?”
Namun, tak perlu panik. Konsep persiapan bertahan hidup selama 72 jam atau tiga hari bukan hal baru bagi Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyediakan panduan resmi yang lengkap, yakni Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana.
Jika di Eropa fokusnya pada isu geopolitik, di Indonesia panduan ini menekankan bencana alam sebagai prioritas utama. Berikut ulasan isi buku tersebut agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.
Alasan Pentingnya Persiapan 72 Jam
Angka 72 jam bukan sembarang angka dalam manajemen bencana. Tiga hari pertama merupakan masa krusial karena bantuan resmi dari pemerintah atau tim Satuan Penyelamat dan Pertolongan (SAR) memerlukan waktu untuk mencapai lokasi, terutama jika akses jalan terputus akibat bencana.
Pada halaman 61 Buku Saku BNPB, dijelaskan bahwa Tas Siaga Bencana (TSB) bertujuan “sebagai persiapan untuk bertahan hidup saat bantuan belum datang dan memudahkan evakuasi menuju tempat aman”. Dengan demikian, kemandirian minimal tiga hari menjadi kunci keselamatan diri dan keluarga.
Isi Tas Siaga Bencana Versi Indonesia
Panduan BNPB dirancang khusus disesuaikan dengan iklim tropis dan kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia. Hal ini berbeda dengan versi Belanda yang mempertimbangkan kondisi musim dingin setempat. Berdasarkan halaman 61 Buku Saku, berikut daftar lengkap barang wajib yang harus ada dalam tas anti air.
Dokumen penting harus disimpan dalam plastik atau map anti air, meliputi surat tanah, ijazah, akte kelahiran, dan surat kendaraan. Dokumen-dokumen ini merupakan aset berharga bagi masa depan keluarga setelah bencana berlalu.
Untuk makanan dan minuman, pilih jenis yang tahan lama seperti mie instan, biskuit, abon, cokelat, dan air mineral bersih. Pastikan persediaan cukup untuk menutup kebutuhan tiga hari tanpa bergantung pada pasokan eksternal.
Pakaian ganti sangat diperlukan untuk masa tiga hari, termasuk baju dalam, celana panjang, jaket, selimut, handuk, dan jas hujan. Pakaian dalam menjadi perhatian khusus karena kebersihan diri saat bencana sangat penting untuk mencegah penyakit.
Kotak pertolongan pertama (P3K) dan obat pribadi harus selalu tersedia. Kelengkapan meliputi obat merah, perban, serta obat khusus bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti asma atau alergi. Obat-obatan pribadi ini bisa saja sulit ditemukan saat kondisi darurat.
Alat bantu penerangan menjadi sangat krusial karena pemadaman listrik hampir pasti terjadi saat bencana melanda. Senter, lampu kepala (headlamp), korek api, atau lilin harus disiapkan sebagai alternatif sumber cahaya.
Uang tunai dalam jumlah yang memadai untuk tiga hari juga sangat penting. Saat terjadi bencana, mesin ATM kerap tidak berfungsi sehingga uang tunai menjadi satu-satunya alat transaksi yang dapat diandalkan.
Gadget dan perangkat informasi seperti radio atau ponsel dengan powerbank yang penuh sangat diperlukan untuk memantau perkembangan situasi dan informasi bencana terbaru dari otoritas setempat.
Peluit mungkin terlihat sepele, namun alat ini vital dalam situasi darurat. Peluit dapat digunakan untuk meminta pertolongan tanpa harus teriak-teriak yang akan menguras tenaga dan energi fisik.
Masker dan perlengkapan mandi termasuk sabun, sikat gigi, dan masker untuk menyaring udara kotor atau debu juga harus ada. Kebersihan pribadi tetap menjadi prioritas untuk menjaga kesehatan selama masa pengungsian.
Persiapan Khusus untuk Hewan Peliharaan
Panduan BNPB menunjukkan pendekatan yang humanis dengan menyertakan arahan khusus untuk hewan peliharaan pada halaman 70. Jangan pernah tinggalkan hewan kesayangan di kandang atau terikat saat melakukan evakuasi, karena hal ini berisiko membahayakan nyawa mereka ketika kepanikan melanda.
Untuk hewan peliharaan kesayangan, siapkan tas darurat khusus berisi makanan kaleng dan air yang cukup untuk tiga hingga lima hari, obat-obatan yang diperlukan, serta carrier untuk memudahkan evakuasi. Pasang stiker peringatan di rumah yang menyebutkan bahwa ada hewan peliharaan di dalam, sehingga tim SAR mengetahui dan dapat membantu mencari mereka jika diperlukan. Selain itu, siapkan beberapa foto hewan peliharaan untuk jaga-jaga apabila mereka terpisah dari keluarga saat proses evakuasi berlangsung.
Posisi Strategis Indonesia sebagai Zona Rawan Bencana
Indonesia memerlukan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara di Eropa seperti Belanda. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis strategis Indonesia. Buku Saku BNPB pada halaman 7 dan 8 dengan jelas menyebutkan bahwa Indonesia dikelilingi oleh tiga lempeng tektonik yang aktif dan termasuk dalam kawasan Ring of Fire atau cincin api Pasifik.
Kondisi geografis ini menghadirkan berbagai jenis bencana yang menjadi “menu” darurat bagi masyarakat Indonesia. Gempa bumi merupakan ancaman yang rawan di hampir seluruh wilayah nusantara. Tsunami menjadi risiko tambahan karena sering terjadi gempa di kawasan laut. Erupsi gunung api juga menjadi ancaman serius mengingat Indonesia memiliki banyak gunung yang masih aktif. Selain itu, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, puting beliung saat musim hujan, serta kekeringan dan kebakaran hutan saat musim kemarau juga menjadi bagian dari risiko bencana yang dihadapi masyarakat.
Saatnya Bertindak Tanpa Panik
Kebangkitan pembahasan panduan Belanda di media sosial sebenarnya menjadi pengingat positif bagi Indonesia yang menghadapi risiko bencana jauh lebih tinggi. Meskipun demikian, persiapan diri sering kali terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Buku Saku BNPB tidak dirancang untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan untuk membangun ketangguhan kolektif. Semangat panduan ini tercermin dalam moto yang terkenal: Tanggap, Tangkas, Tangguh.
Mulailah menyusun tas siaga bencana dari sekarang, tanpa perlu menunggu isu viral agar menjadi catalisator tindakan. Persiapan yang matang adalah investasi terbaik untuk keamanan dan keselamatan diri sendiri dan keluarga di masa depan.

