Image default
SocialEditor's Picks

Konferensi One Health Jakarta: Ilmuwan ASEAN-Prancis Sepakat Perlu Kolaborasi Lintas Sektor Cegah Pandemi

Jakarta, ESGIDN.com – Para ahli, pembuat kebijakan, dan lembaga penelitian dari Asia Tenggara dan Prancis berkumpul di Jakarta pada 25-26 November 2025 untuk menghadiri Konferensi Ilmiah One Health ASEAN-Prancis. Pertemuan dua hari ini bertujuan memperkuat kerja sama regional dalam menangani tantangan kesehatan yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan secara terintegrasi.

Konferensi diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS), Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Institut français d’Indonésie (IFI), Kementerian Kesehatan Indonesia, dan Sekretariat ASEAN. Inisiatif ini juga melibatkan lembaga penelitian dari kedua belah pihak: IRD (Institut Nasional Prancis untuk Penelitian Pembangunan Berkelanjutan), CIRAD (Pusat Penelitian Pertanian Prancis untuk Pembangunan Internasional), dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia).

Konferensi ini merupakan momentum strategis menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) “One Health” yang akan diselenggarakan di Lyon, Prancis, pada 7 April 2026. Melalui pertemuan ini, ASEAN dan Prancis memperbarui komitmen bersama mereka untuk meningkatkan kapasitas regional dalam mencegah, mendeteksi, dan menanggapi penyakit menular, darurat kesehatan masyarakat, dan pandemi.

Dua Hari Pembahasan Intensif

Acara hari pertama (25 November) diselenggarakan di Sekretariat ASEAN, sementara hari kedua (26 November) berlangsung di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tepatnya di Ruang Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi.

Konferensi mengumpulkan ilmuwan, profesional kesehatan masyarakat, dan ahli lingkungan untuk berdiskusi seputar empat tema utama: One Health Systems di tingkat global, regional, dan nasional; Batasan Planet; Perubahan Iklim; dan Kawasan Lindung.

Dalam diskusi, para peserta menyoroti bagaimana kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan penggunaan lahan, dan gangguan iklim berkontribusi pada kemunculan penyakit dan berdampak pada kesehatan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara lembaga lingkungan, dokter hewan, dan kesehatan untuk mengatasi tantangan tersebut.

Format Pembahasan

Konferensi dibuka dengan sambutan dari perwakilan Prancis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan Sekretariat ASEAN, dilanjutkan dengan keynote lectures dan sesi ilmiah. Dua forum diskusi juga diadakan—satu berfokus pada resistensi anti mikroba dan yang lainnya pada perubahan iklim serta dampaknya terhadap kesehatan.

Sesi penutupan dilakukan secara virtual yang menghubungkan Jakarta dan Bangkok, guna berbagi kesimpulan dengan pembuat kebijakan regional pada Quadripartite One Health Workshop kedua untuk Asia.

Komitmen Prancis dan ASEAN

Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, menekankan pentingnya kemitraan ini. “Peningkatan kemitraan Prancis-ASEAN merupakan prioritas bagi pemerintah Prancis. Prancis berupaya mengembangkan kerja sama dengan ASEAN di bawah tiga pilar utama, terutama pilar sosial-budaya. Secara khusus, tujuan kami adalah memperkuat kerja sama di bidang kesehatan global, dan konferensi ilmiah Prancis-ASEAN ‘One Health’ hari ini merupakan langkah penting untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya.

Serge Morand, Direktur Penelitian di CNRS dan pakar pendekatan One Health, menjelaskan latar belakang kolaborasi. “Kerja sama ilmiah antara organisasi Prancis seperti CNRS, CIRAD, IRD, Pasteur Institute, dan universitas-universitas Prancis dengan mitra di Asia Tenggara telah berlangsung lama dan mencakup berbagai bidang, termasuk kesehatan dan lingkungan,” kata Morand.

Morand menambahkan bahwa pandemi COVID-19 mendorong adopsi pendekatan One Health melalui pembentukan One Health High-Level Expert Group yang mendukung Kerangka Kerja Quadripartite One Health. “Inisiatif PREZODE, yang diluncurkan sebagai respons terhadap pandemi COVID-19, diperkenalkan dalam konferensi sebagai platform untuk kolaborasi potensial di masa depan dalam bidang One Health antara Prancis dan ASEAN, bersama dengan inisiatif lainnya,” jelasnya.

Fokus Indonesia pada Pengawasan Multisektoral

Dari sisi Indonesia, Harditya Suryawanto, Direktur Pusat Strategi dan Kebijakan Kesehatan Global dan Tata Kelola, Kementerian Kesehatan Indonesia, menekankan pentingnya agenda One Health ASEAN yang terus berkembang.

“Agenda One Health ASEAN yang semakin berkembang, yang didukung oleh Jaringan One Health ASEAN, sangat penting untuk memperkuat pengawasan multisektoral, sistem laboratorium, pemantauan data dan genomik, serta koordinasi regional guna memastikan kawasan ini lebih siap, lebih terlindungi, dan lebih terhubung dalam menghadapi ancaman kesehatan yang muncul,” ujar Suryawanto.

Kolaborasi Berkelanjutan Menuju Lyon 2026

Melalui konferensi ini, ASEAN dan Prancis memperbarui kerja sama mereka dalam pendekatan One Health, mempromosikan tindakan terkoordinasi yang berkelanjutan dan kolaborasi ilmiah dalam bidang kesehatan global, iklim, dan keanekaragaman hayati.

Kesepakatan ini menjadi dasar kuat bagi kedua pihak untuk melanjutkan dialog strategis menjelang KTT One Health Lyon pada April 2026. Diharapkan, pertemuan tingkat tinggi tersebut akan menghasilkan kerangka kerja regional yang lebih komprehensif dalam menghadapi ancaman kesehatan lintas batas di masa depan.


Pentingnya One Health untuk Region

Dalam konteks Asia Tenggara, pendekatan One Health menjadi semakin kritis mengingat wilayah ini merupakan hotspot kemunculan penyakit menular baru. Kepadatan penduduk, urbanisasi yang cepat, intensitas pertanian, dan perubahan iklim menciptakan kondisi ideal untuk munculnya patogen baru.

Kolaborasi ASEAN-Prancis diharapkan tidak hanya memperkuat sistem kesehatan regional, tetapi juga membangun resiliensi jangka panjang terhadap berbagai ancaman kesehatan yang mungkin muncul di dekade mendatang.

Related posts

Bukan Sekadar Kembang Api: Menyambut 2026 dengan Solidaritas dan Revolusi Digital

Diana Nisa

Mewujudkan Hilirisasi Berkelanjutan: Menjaga Keseimbangan Antara Target Ekonomi dan Aspek Sosial

Nugroho

INSTAR 2025: Terobosan Indonesia dalam Keunggulan ESG dan Integritas Bisnis Berkelanjutan

Nea