Jakarta, ESGIDN.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menetapkan jadwal pemancangan tiang pertama (groundbreaking) proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy atau WTE) pada Maret 2026. Langkah ini merupakan bagian integral dari 18 proyek hilirisasi strategis yang sedang berlangsung dengan nilai investasi keseluruhan mencapai sekitar Rp600 triliun, sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Sekretaris Negara.
Proyek WTE akan dibangun di 34 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, dengan kriteria utama bahwa setiap lokasi menghasilkan minimal 1.000 ton sampah per hari. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, timbunan sampah di lokasi-lokasi tersebut telah menjadi beban serius, dengan data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat volume sampah nasional telah mencapai lebih dari 50 juta ton per tahun, sementara akumulasi di tempat pembuangan akhir diperkirakan mencapai 1,6 miliar ton.
Proses tender proyek WTE telah dimulai sejak November 2025, dan saat ini 24 perusahaan global telah lolos tahap Daftar Penyedia Terseleksi (DPT). Perusahaan-perusahaan tersebut diminta untuk membentuk konsorsium yang melibatkan mitra lokal, baik dari sektor swasta, BUMN, maupun BUMD. Tender batch pertama difokuskan pada empat kota dengan kesiapan tertinggi: Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta. Berdasarkan jadwal yang ditetapkan Danantara, batch pertama diharapkan menghasilkan pengajuan penawaran pada awal Januari 2026, dengan pemenang tender diumumkan pada akhir Januari 2026.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menerangkan bahwa proses seleksi dilakukan secara terbuka dan bertahap, dengan daerah yang telah dinyatakan siap oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) langsung masuk ke tahap tender tanpa harus menunggu daerah lainnya. Danantara juga telah menetapkan parameter harga dan teknologi sejak awal untuk menghindari negosiasi yang berlarut-larut.
Dari aspek pendanaan, Danantara menargetkan kepemilikan minimal 30% di setiap proyek WTE, dengan skema project financing menggunakan rasio sekitar 70% pinjaman dan 30% ekuitas. Sebagian dana ekuitas akan bersumber dari penerbitan Patriot Bond, instrumen keuangan yang dirancang khusus untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional.
Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa proyek WTE merupakan langkah strategis yang tidak hanya mengatasi persoalan sampah, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional dan diversifikasi sumber energi. Pada peresmian fasilitas di Balikpapan, Presiden menyatakan bahwa meskipun tender dibuka segera, proses pembangunan hingga beroperasi penuh memerlukan waktu sekitar dua tahun.
Proyek WTE ini diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang terhadap penumpukan sampah yang menjadi masalah lingkungan akut di kota-kota besar Indonesia, sekaligus mendukung transisi nasional menuju energi terbarukan.

