Image default
Enviroment

Bumi Sedang “Mengerem”? Mengungkap Fakta Mengejutkan di Balik Perputaran Planet Kita

Jakarta, ESGIDN.com – Pernahkah Anda merasa hari-hari belakangan ini terasa lebih panjang? Mungkin Anda hanya lelah. Tapi secara ilmiah, Anda sebenarnya tidak sepenuhnya salah.

Planet tempat kita berpijak ini tidak sesederhana bola dunia yang Anda putar di meja belajar. Di balik ketenangannya, Bumi menyimpan dinamika pergerakan yang terus berubah—mulai dari melambat, “bergoyang”, hingga dampaknya yang ternyata lebih krusial daripada sekadar menciptakan siang dan malam.

Mari kita bedah fenomena rotasi Bumi yang jarang dibicarakan, namun vital bagi kehidupan modern kita.

  1. Bumi Tidak Berputar 24 Jam Pas
    Inilah miskonsepsi terbesar yang kita pelajari di sekolah dasar. Secara teknis, Bumi membutuhkan waktu 23 jam, 56 menit, dan 4 detik untuk berputar satu kali penuh pada porosnya (disebut Hari Sideris).

Lalu, dari mana datangnya 4 menit sisanya? Itu adalah “bonus” waktu yang kita dapatkan karena Bumi juga bergerak mengelilingi Matahari (revolusi). Tanpa koreksi ini, jam tangan kita akan kacau balau dalam hitungan bulan, membuat siang hari tiba-tiba terjadi di jam 12 malam.

  1. Rem Raksasa Bernama “Bulan”
    Fakta yang mungkin mengejutkan: Bumi sedang mengerem.
    Jutaan tahun lalu, satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar 19 jam. Namun, tarikan gravitasi Bulan yang menyebabkan pasang surut air laut bertindak sebagai “rem gesek” raksasa yang perlahan memperlambat putaran planet kita.

Penelitian terbaru bahkan mengungkap bahwa inti dalam Bumi (inner core) mulai melambat sejak 2010. Dampaknya? Hari-hari kita bertambah panjang sepersekian milidetik setiap abadnya. Meski tak kasat mata, ini adalah alasan mengapa ilmuwan terkadang harus menambahkan “detik kabisat” (leap second) agar jam atom dunia tetap sinkron.

  1. Mengapa Kita Tidak Terlempar?
    Jika Bumi berputar dengan kecepatan 1.670 km/jam di khatulistiwa (lebih cepat dari kecepatan suara!), mengapa kita tidak terlempar ke angkasa?

Jawabannya ada pada gravitasi yang jauh lebih kuat daripada gaya sentrifugal (gaya lempar) akibat putaran. Namun, rotasi ini tetap memiliki efek fisik nyata: Bumi menjadi tidak bulat sempurna, melainkan pepat (gepeng) di kutub dan menggembung di tengah. Akibatnya, berat badan Anda sebenarnya sedikit lebih ringan jika ditimbang di garis khatulistiwa dibandingkan di Kutub Utara.

  1. Tanpa Rotasi, Kita Mati
    Bayangkan jika Bumi berhenti berputar mendadak.
    Bukan hanya kita akan terlempar ke arah timur dengan kecepatan supersonik, tapi kehidupan akan musnah perlahan. Satu sisi Bumi akan terpanggang matahari selama 6 bulan non-stop, sementara sisi lainnya membeku dalam kegelapan abadi selama 6 bulan berikutnya.

Rotasi adalah “mesin pendingin” alami yang mendistribusikan panas matahari secara merata, memungkinkan tanaman berfotosintesis dan manusia memiliki ritme sirkadian (siklus tidur) yang sehat.

Relevansi di Tahun 2026
Mengapa kita perlu peduli? Di era satelit dan GPS 2026, pemahaman presisi tentang rotasi Bumi adalah kunci.
Perubahan milidetik pada rotasi Bumi bisa mengacaukan sistem navigasi Google Maps, transaksi perbankan frekuensi tinggi (high-frequency trading), hingga pendaratan pesawat otonom.

Jadi, saat Anda melihat matahari terbenam sore ini, ingatlah: Anda sedang menyaksikan sebuah mesin kosmik raksasa yang bekerja presisi untuk menjaga kita tetap hidup.

Fakta Kilat:

Kecepatan Rotasi: ~1.670 km/jam (di Ekuator).

Arah: Barat ke Timur (itulah sebabnya Papua melihat matahari lebih dulu dari Aceh).

Dampak Unik: Jet lag adalah bukti tubuh kita bingung akibat berpindah zona rotasi terlalu cepat.

Related posts

Resort Indonesia 2025: Mengubah Kemewahan Menjadi Komitmen Berkelanjutan

Nea

Bagaimana Perubahan Iklim Menggeser Poros Bumi

Nugroho

Bird’s Head Seascape, Harta Karun Global di Halaman Belakang Indonesia

Nea