Image default
Enviroment

Bagaimana Perubahan Iklim Menggeser Poros Bumi

Kita sering mendengar dampak perubahan iklim dalam bentuk cuaca ekstrem, gelombang panas, atau naiknya air laut. Namun, ada satu dampak yang jauh lebih fundamental tapi jarang disadari: Manusia sedang membuat Bumi “miring”.

Bukan dalam arti kiasan, tapi harfiah. Studi geofisika terbaru tahun 2024-2025 telah mengonfirmasi bahwa aktivitas manusia—terutama pencairan es kutub dan penyedotan air tanah—telah menggeser poros rotasi Bumi secara signifikan.

Jika Bumi diibaratkan sebagai gasing yang berputar, kita sedang menumpuk beban di “pinggangnya” (khatulistiwa), membuatnya berputar lebih lambat dan sedikit oleng.

  1. Es yang Mencair = Beban yang Berpindah
    Mekanismenya sederhana namun mengerikan. Selama ribuan tahun, berat triliunan ton es menumpuk di Kutub Utara (Greenland) dan Kutub Selatan (Antartika). Beban ini menekan kerak bumi di kutub.

Namun, akibat pemanasan global, es ini mencair dan mengalir ke lautan. Air yang tadinya terkunci di kutub kini menyebar ke seluruh samudra menuju garis khatulistiwa. Inilah yang disebut Redistribusi Massa.

Ibarat seorang penari balet yang merentangkan tangannya saat berputar, perpindahan massa air ke “pinggang” Bumi menyebabkan dua hal:

Rotasi Melambat: Putaran Bumi menjadi lebih berat. Ini memaksa ilmuwan untuk menunda penghapusan “detik kabisat” (negative leap second) dari tahun 2026 ke 2029. Ya, hari-hari kita secara harfiah menjadi lebih panjang beberapa milidetik.

Poros Bergeser (Polar Drift): Kutub Utara geografis telah bergeser sekitar 4 meter ke arah timur sejak 1980. Namun, sejak tahun 2000-an, arah pergeserannya berubah tajam ke arah Inggris akibat pencairan es Greenland yang masif.

  1. Bukan Cuma Es, Tapi Air Tanah
    Fakta yang lebih mengejutkan: Bukan hanya es yang mencair, tapi kebiasaan kita memompa air tanah juga ikut andil.

Sebuah studi Geophysical Research Letters (2025) mengungkap bahwa penyedotan air tanah secara gila-gilaan—terutama di India Barat Laut dan California—telah memindahkan miliaran ton air dari dalam tanah ke laut (melalui penguapan dan sungai). Dampaknya? Poros Bumi bergeser 80 sentimeter hanya dalam dua dekade terakhir akibat faktor ini saja.

Manusia telah memindahkan begitu banyak air sehingga kita benar-benar mengubah cara planet ini berputar.

  1. Apa Dampaknya Bagi Bisnis & Navigasi?
    Bagi orang awam, pergeseran beberapa meter mungkin terdengar sepele. Tapi bagi industri presisi, ini mimpi buruk.

Kekacauan GPS: Sistem Global Positioning System (GPS) harus dikalibrasi ulang secara berkala. Jika poros bumi bergeser lebih cepat dari prediksi algoritma, akurasi GPS bisa meleset. Ini berbahaya bagi pendaratan pesawat otomatis atau pengeboran minyak lepas pantai.

Teleskop & Satelit: Satelit yang mengorbit Bumi menggunakan bintang sebagai acuan (star trackers). Jika orientasi Bumi berubah, satelit bisa “bingung” menentukan posisinya sendiri terhadap stasiun bumi.

  1. Sinyal Peringatan dari Fisika
    Fenomena ini adalah bukti paling nyata bahwa manusia telah menjadi kekuatan geologis (geological force). Kita tidak lagi sekadar “penumpang” di planet ini; kita adalah “sopir” yang sedang mabuk, membelokkan setir (poros bumi) tanpa sadar.

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik kesadaran ini. Perubahan iklim bukan lagi soal “cuaca hari ini”, tapi soal menjaga kestabilan mesin planet tempat kita hidup. Jika gasing ini makin oleng, kestabilan iklim jangka panjang adalah taruhannya.

Related posts

Mengungkap Aksi Iklim: Climate TRACE Buka Era Transparansi Emisi Global

Nea

Krisis Pengelolaan Lingkungan Indonesia: Respons ESG terhadap Banjir Sumatra dan Jalan Menuju Kolaborasi Internasional untuk Pencegahan Bencana

Nea

Indonesia: Harta Karun Keanekaragaman Hayati Dunia dan Peluang ESG Uniknya

Nea